Tongkat sihir sudah dikenal sejak jaman dahulu, dari jaman lukisan goa
pra-sejarah dan seni bangsa Mesir kuno. Para penyihir dari zaman sebelum
Masehi di Eropa menggunakan tongkat setiap mengadakan ritual. Tongkat
sihir dahulu hanya dibuat pada saat matahari baru terbit atau saat
matahari akan tenggelam -tergantung saat yang tepat untuk menyerap
kekuatan dari matahari- menggunakan pisau yang dianggap suci. Tongkat
sihir kemudian dipakai bukan hanya sebagai penghantar kekuatan
supranatural saja tapi juga sebagai alat upacara keagamaan dan simbol
kekuatan.
Di dalam dongeng, tongkat sihir pertama kali muncul dalam
cerita Odysseus yang ditulis oleh penyair Yunani bernama Homer tahun
800-900 SM. Penyihir cantik bernama Circe menggunakan tongkatnya untuk
mengubah pelaut kapal Odyseus menjadi sekumpulan babi. Mengubah satu
benda menjadi hal lain adalah hal yang biasa dilakukan oleh tongkat
sihir. Salah satu tongkat yang terkenal adalah tongkat sihir berujung
bintang yang digunakan Ibu Peri Cinderella untuk mengubah tikus-tikus
rumah menjadi sekawanan kuda, juga menyihir buah labu menjadi kereta
kencana. Dongeng lain menceritakan tentang Merlin yang mampu memindahkan
batu-batu besar (Stonehenge) di Irlandia. Ada juga dongeng tentang dewa
Yunani bernama Hermes yang menggunakan tongkatnya (Caduceus) untuk
membuatnya tidak kasat mata.
Di jaman Eropa modern, banyak penyihir
menganggap tongkat sihir sebagai alat yang penting untuk memantrai,
dengan cara mengayunkan tongkat mereka agar terhindar dari pengaruh
jahat. Menurut buku The Key of Solomon, salah satu buku sihir terkenal
di abad pertengahan, tongkat sihir yang ideal haruslah terbuat dari kayu
Hazel dan harus dipotong dengan sekali ayun oleh sebuah kapak yang
masih baru. Untuk menambah kekuatan sihirnya tongkat tersebut ada yang
ditambahkan kristal, diukir kata-kata sihir atau nama-nama tertentu yang
dianggap sakti. Bila tongkat sudah selesai diukir, para penyihir lantas
mengundang roh-roh, yang baik atau yang jahat , tergantung kegunaan
tongkat tersebut nantinya.
Pada awal abad kelima belas tongkat sihir
kemudian digunakan oleh para seniman jalanan yang menampilkan atraksi
“sihir” atau yang lebih dikenal dengan sulap. Ada dua fungsi utama
tongkat sihir bagi seniman jalanan tersebut, yaitu sebagai pengalih
perhatian penonton , dan yang kedua sebagai alat untuk meyakinkan
penonton seolah-olah sihir itu datang dari tongkat. Zaman sekarang
tongkat sihir merupakan barang bawaan wajib para pesulap. Beberapa
pesulap memiliki tongkat tipuan yang bisa pecah, bengkok, berubah
warna, menembakkan bunga api, dan terbelah dua dengan sempurna untuk
memukau penontonnya.
Lalu, mengapa
malah tongkat yang dijadikan simbol sihir, dan bukannya benda lain? Apa
yang menjadi kelebihan sebuah tongkat kayu hingga menjadi simbol
kekuatan bagi seorang penyihir? Menurut beberapa ahli, tongkat kayu
menjadi simbol kekuatan karena tongkat kayu merupakan alat yang pertama
kali digunakan manusia pra-sejarah untuk bertahan hidup - kekuatan untuk
mempertahankan diri dari serangan binatang buas, menyerang musuh dan
berburu. Tongkat kayu tidak lagi digunakan sebagai senjata, karena
digantikan oleh tombak dan pedang besi. Karena tidak dipergunakan untuk
kehidupan sehari-hari tongkat kayu mulai dipakai hanya sebagai bentuk
simbolis kerajaan. Menurut beberapa sumber, di tangan seorang raja,
tongkat berubah fungsi menjadi tongkat kerajaan yang dipakai sebagai
simbol kekuatan suatu kerajaan. Namun di tangan seorang penyihir tongkat
itu berubah menjadi tongkat sihir yang melambangkan kendali atas
kekuatan alam dan kekuatan supranatural.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar